Wawancara 02 Oct, 2019 72

Koen Verheyen

<?=$content->title;?>

NN (Network News): Merupakan suatu kehormatan untuk mewawancarai salah satu pendiri APLI. Sejauh perkembangan APLI selama 30 tahun Pak Koen berada dalam industri direct selling Indonesia. Bagaimana sejarah Bapak dengan APLI?

KV (Koen Verheyen): Saya bergabung dengan Oriflame pada tahun 1986. Saat itu Oriflame adalah MLM pertama di Indonesia. Pada Maret 1986 di Indonesia hanya ada beberapa perusahaan direct selling. Saat itu, Oriflame masih mencari-cari asosiasi yang menaungi industri direct selling di Indonesia. Selanjutnya saya ikut meeting IDSA (Indonesia Direct Selling Association) di Chase Plaza, yang merupakan kantor Pak Eddy Budhiman ketua APLI pertama. Sejak pertama kali meeting IDSA, saya diajak mengikuti kepengurusannya. Saya didelegasikan sebagai Public Relation-nya. Peristiwa ini sudah hampir 30 tahun lalu jadi saya sudah agak lupa apa detailnya. Tapi yang pasti saat itu struktural masih belum tertata jelas, meeting juga belum terjadwalkan secara rutin.

Pada tahun 1987, IDSA mengikuti World Congress WFDSA (World Federation of Direct Selling Associations) di Singapura. Ini merupakan kesempatan yang baik untuk ikut karena lokasinya dekat. Waktu itu saya berangkat bersama Pak Abrian Natan (CNI), Pak Eddy Budhiman, dan beberapa pengurus lainnya. Ketua WFDSA saat itu Mr. Suzuki dari Jepang dari Pola Cosmetic yang kemudian pada World Congress itu digantikan oleh perwakilan MLM Natura dari Brazil. Adapun selanjutnya World Congress lebih banyak diselenggarakan di Amerika Latin.

NN: Tantangan paling berat saat itu apa Pak?

KV: Tidak ada yg mengerti direct selling. Tidak ada regulasi yang mengatur mengenai industri ini. Bahkan belum ada campur tangan pemerintah.

NN: Bagaimana proses pergantian nama IDSA menjadi APLI dan kapan itu terjadi?

KV: Pada World Congress WFDSA di Berlin, Jerman pada 1993 ada papan dari semua anggota di seluruh dunia. Ada dua IDSA yaitu India dan Indonesia. Pada saat itu juga ada gerakan untuk menggunakan Bahasa Indonesia sebagai brand. Sejak itulah nama IDSA berubah menjadi APLI. IDSA resmi menjadi APLI sejak 1994.

NN: Pada 10 tahun pertama apa saja kegiatan APLI?

KV: Sepuluh tahun itu kegiatan APLI lebih fokus kearah masalah internal dengan tujuan perusahaan tunduk pada payung hukum yang ada di Indonesia untuk menjaga kepercayaan pemerintah. Saat itu anggotanya hanya 12 – 15 perusahaan.

NN: MLM sedang growing di Indonesia pada tahun 1990 – 2000-an, tantangan apa yang dihadapi APLI?

KV: Banyak perusahaan Indonesia yang ingin mencoba direct selling karena sedang booming. Namun kemudian berhenti begitu saja karena tidak memiliki pengalaman. Oleh karena itu, banyak juga yang mempengaruhi iklim MLM di Indonesia secara negatif. Ini terjadi karena mereka tidak memikirkan nasib distributor yang telah meluangkan waktu, tenaga dan biaya untuk mengembangkan bisnis mereka. Di dalam kode etik pun belum ada yang melindungi distributor. Saat ini yang ada hanya kewajiban perusahaan untuk membayar kompensasi, tapi belum ada perlindungan distributor untuk kedepannya.

NN: Bagaimana proses pengawasan terhadap MLM/DS selama ini?

KV: Anggota APLI harusnya menjadi yang pertama dalam mematuhi peraturan yang ada. Bahkan mereka mempunyai peraturan internal yang lebih ketat didalamnya. Harusnya kalau tidak bisa jadi anggota APLI, maka tidak bisa mendapatkan SIUPL. APLI dapat mengawasi anggotanya, sehingga ke depannya keanggotaan APLI mampu menjadi ‘jaminan’ bagi semua pihak.

NN: Bagaimana Anda menyikapi tantangan pada industri direct selling saat ini?

KV: Tantangan merupakan peluang untuk menjadi lebih baik. Konsumen sekarang dengan konsumen 10-20 tahun berbeda. Yang sekarang lebih kritis. Konsumen sekarang mampu untuk menilai. Perusahaan harus mampu memastikan bahwa mereka dapat memuaskan konsumennya. Konsumen konvensional mempunyai sedikit informasi dari label dan keterangan dari iklan, sedangkan informasi direct selling bisa lebih dijabarkan lebih detail dari sekedar label dan iklan . Di sinilah pentingnya peranan training-training. Direct selling bukan hanya to educate saja tapi juga to satistify konsumen. “No direct selling without consumer”

NN: Bagaimana tanggapan pemerintah terhadap industri direct selling?

KV: Sekarang pemerintah jauh lebih baik karena pengertian dari bisnis kita jauh lebih luas dan detail dibanding dulu. Setiap negara ada kecenderungan untuk melindungi ekonomi negaranya dalam keadaan ketidakpastian ekonomi global sehingga akan lebih giat. Tetapi, untuk Indonesia perkembangan ekonomi 5-6% sudah cukup baik karena tidak banyak negara mampu melakukannya untuk saat ini, walaupun sebenarnya masih banyak pekerjaan rumah bagi Indonesia.

NN: Bagaimana Bapak menanggapi era internet dengan industri direct selling?

KV: Era internet adalah komunikasi shifting. Yang tidak akan hilang adalah person to person. Internet adalah channel untuk transaksi dengan sedikit informasi, tetapi tetap harus menjaga person to person-nya.

NN: Apa impian Bapak Koen kedepannya untuk APLI dan industri direct selling di Indonesia?

KV: Semoga ke depannya APLI dapat menjadi asosiasi yang mampu memperjuangkan perusahaan, konsumen, distributor dan negara.

NN: Hal apa yang membanggakan dari APLI menurut pandangan Bapak?

KV: Yang paling bisa ditonjolkan adalah APLI selalu menjadi narasumber pemerintah untuk direct selling. Ilmu yg dibagikan bukan hanya untuk kepentingan pribadi melainkan juga untuk kepentingan industri di Indonesia.

NN: Apa yang membuat Bapak bertahan dengan APLI dan industri direct selling selama 30 tahun terakhir ini?

KV: Saya bertahan karena passion saya di industri ini. Di industri ini peluang yang ditawarkan mampu mengubah kehidupan orang banyak. Setiap manusia punya kemampuan menjual tetapi apakah setiap orang mau menjual? Nah, disinilah seninya direct selling. Jadi waktu yang diluangkan adalah kunci keberhasilan di industri ini. “If you can’t motivated yourself you can’t motivated others”. Jadi semuanya tergantung ke diri sendiri. Jadi setiap orang yang bergabung di Industri ini harus bisa memotivasi dirinya sendiri.

NN: Bagaimana prospek direct selling/multi level company (DS/MLM) kedepannya?

KV: Kita lihat populasi Indonesia tinggi tentu saja peluangnya tinggi.

NN: Ada pesan singkat untuk mengakhiri wawancara ini?

KV: Yang dikejar pada visi perusahaan adalah membantu orang lain mewujudkan hidup yg lebih baik, sehingga yang diperoleh nantinya adalah profit. Jadi jangan sampai terbalik prinsip itu.


Artikel Terkait