Wawancara 02 Oct, 2019 37

Eddy Budhiman

<?=$content->title;?>
Jika saat ini di Indonesia kita mengenal APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia) sebagai tempat bernaungnya perusahaan – perusahaan DS/MLM dalam menjalankan bisnis, maka jauh sebelumnya, tepatnya pada tahun 1984, organisasi yang pertama kali berdiri adalah IDSA (Indonesia Direct Sales Association) yang didirikan oleh Bapak Eddy Budhiman. Saat pertama kali mendirikan IDSA (Indonesia Direct Sales Association), Bapak Eddy Budhiman masih bergabung di PT. Tigaraksa.

Sejak tahun 1970an, Bapak Eddy Budhiman selalu mewakili Indonesia dan PT. Tigaraksa untuk menghadiri pertemuan – pertemuan internasional yang diadakan oleh World Federation of Direct Selling Associations (WFDSA) setiap tahunnya guna membahas perkembangan dan kemajuan dunia direct selling. Saat itu beberapa kali Bapak Eddy Budhiman diminta dan ditunjuk untuk menjadi perwakilan asosiasi penjualan langsung di Indonesia, dan beberapa kali pula beliau menolak.
Seiring berjalannya waktu, dan atas permintaan dari
Mr. Robert King, Chairman of WFDSA, akhirnya pada tahun 1984, Bapak Eddy Budhiman setuju dan menyanggupi untuk menjadi pendiri dan Ketua Umum IDSA (Indonesia Direct Sales Association).

Bapak Eddy Budhiman pun mengawali berdirinya IDSA di Indonesia dengan membuat logo IDSA yang hingga kini masih digunakan oleh APLI. Pada logo IDSA, Bapak Eddy Budhiman menggunakan Candi Borobudur yang dimaksudkan untuk menonjolkan identitas Indonesia. Dan Borobudur sendiri berbentuk seperti segitiga yang posisi atasnya mengerucut. Bentuk ini dimaksudkan sebagai harapan agar seluruh anggota – anggota dapat bersatu dalam satu titik tujuan.

Pada awal berdirinya IDSA hanya beranggotakan 5 perusahaan, yakni 3 perusahaan buku, 1 perusahan lingerie dan AVON. Kemudian baru diikuti oleh CNI dan Oriflame. Pada saat itu, tugas IDSA sendiri pada saat itu adalah melayani dan membantu perusahaan – perusahaan DS/MLM untuk membuka perusahaan di Indonesia. Awal menjalankan IDSA tidaklah mudah karena dulu, perusahaan – perusahaan DS/MLM masih memikirkan alasan mengapa harus bergabung dengan IDSA . Selain itu, akan dikenakan biaya keanggotaan untuk bergabung menjadi anggota IDSA dan akan terikat dengan kode etik penjualan yang sesuai dengan peraturan IDSA.
Kembali ke tahun 1980-an. Diceritakan oleh Bapak Eddy Budhiman, pada saat itu perusahaan – perusahaan DS/MLM sangat kacau. Perekrutan – perekrutan yang dilakukan oleh perusahaan – perusahaan DS/MLM sangat memaksa publik hingga akhirnya mendapatkan citra yang buruk. Karena kericuhan ini, maka IDSA akhirnya menerapkan kode etik yang lebih ketat lagi untuk mengatasi kenakalan-kenakalan yang dilakukan perusahaan-perusahaan DS/MLM dahulu. Hal inilah yang membuat IDSA semakin kesulitan menarik perusahaan DS/MLM untuk bergabung sebagai anggota.

Selama dipimpin oleh Bapak Eddy Budhiman, IDSA tidak memiliki kepengurusan seperti saat ini di APLI. Semuanya dilakukan oleh Bapak Eddy Budhiman sebagai Ketua Umum dan Bapak Yusuf dari Perusahaan Buku Britannica sebagai Wakil Ketua. Dari 5 anggota akhirnya IDSA berkembang dengan 54 anggota yang terdaftar.

Sampai akhirnya pada tahun 1992, Bapak Eddy Budhiman mengalihkan kepengurusan IDSA kepada Bapak Helmy Attamimi yang menjabat sebagai Ketua Umum sampai dengan 2012 dan kini menjadi penasihat APLI.

Artikel Terkait